Secara pedagogik, fenomena KURVA NORMAL terjadi di kelas, dimana sekitar 80% siswa berada di zona kurva tengah, yakni siswa yang memiliki tingkat kecepatan rata-rata yang hampir sama dalam menangkap dan memahami materi pelajaran. Inilah yang merupakan target atau sasaran pengajaran disetiap sesi. Namun, ada juga sekitar 10% siswa yang berada di zona ekstrim kanan pada kurva, yang kemampuannya dalam menyerap materi pelajaran sangat cepat (fast learners), melebihi kecepatan siswa yang berada di bagian tengah tadi. Di sisi lain, ada juga kira-kira 10% siswa yang berada di zone ekstrim kiri kurva, yang memiliki daya tangkap lebih lambat (slower learners). Jika siswa yang berada di zona ekstrim kanan (fast learners) tidak diberdayakan dengan baik, mereka biasanya akan frustasi dan nakal, sebab mereka merasa begitu mudah memahami materi pelajaran. Di SGS guru wajib menyiapkan materi tambahan (extra work) yang lebih menantang namun masih dalam area topik yang sama untuk diberikan kepada siswa dengan kecepatan belajar yang lebih cepat. Disamping menyediakan materi tambahan, guru juga bisa memberikan instruksi atau pengugasan yang berbeda, yang lebih menantang, untuk terus mengakomodir ‘petualangan belajar’ siswa yang berada di zona ekstrim kanan. Demikian juga dengan siswa yang berada di zona ekstrim kiri, yakni siswa dengan kecepatan belajar yang lebih lambat, akan frustasi jika guru memaksa mereka memahami materi ajar dengan kecepatan dan ekspektasi yang sama dengan siswa yang beradas pada kedua zona sebelumnya. Itulah sebabnya, di SGS, siswa yang lebih lambat akan diberikan bantuan (learning support), baik oleh guru kelas, asisten guru, atau staf yang ditugaskan untuk itu, agar mereka tidak tertinggal dan mampu menguasai materi pelajaran nenyerupai teman-temannya yang berada di zona kurva tengah. Di SGS, setiap sesi pembelajaran harus efektif dan berhasil guna maksima dan setiap siswa diwajibkan menggunakan waktunya secara efisien dan produktif – tidak bolah ada waktu yang terbuang sia-sia.
Di SGS kami memberikan tuntutan belajar yang tinggi kepada siswa. Kami mewajibkan guru berjibaku dalam membuat siswa memahami materi ajar. Mereka memahami materi pelajaran harus dari kelas, bukan dari guru les atau karena bantuan orangtua di rumah. Itulah sebabnya, SGS merupakan satu dari sedikit sekolah di Indonesia yang menjamin siswa tidak perlu les untuk memahami materi pelajaran, dengan catatan siswa tersebut bukan siswa berkebutuhan khusus. Namun demikian, kami menyadari bahwa ada orangtua yang memiliki target khusus untuk anak dan untuk itulah SGS telah bekerjasama dengan beberapa lembaga pendidikan untuk mengakomodir kebutuhan siswa dan orangtua sekaligus menyediakan kegiatan luar sekolah yang positif untuk membentengi siswa dari penetrasi gawai (gadget) yang kian mengkhawatirkan.
1. Parole Learning Center (PLC): Menyediakan program pendampingan belajar atau les khusus untuk mata pelajaran Matematika, CaLisTung, IT, dan Arts.
2. The Royal English Course (REC): Menyediakan berbagai macam program kursus Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin, baik kelas regular, semi privat, dan privat.
3. Royal Music Academy Indonesia (RMAI): Menyediakan berbagai macam program kursus musik, antara lain: Classical Piano, Pop Piano, Guitar, Violin, Indonesian Traditional Music Instrument, Drum, dan flute.
2018-2024 www.solideogracias.sch.id